Sometimes, you have to remember who you were to figure out who you wanna be.
Sometimes, to survive, you have to give up the things that you care about and just give it to your faith.
Maybe we have got through the wrong path to recognize the right one
Manusia biasanya lebih menghargai suatu hal yang didapat dengan susah payah ketimbang mensyukuri nikmat yang sudah tersedia
akhirnya, aku membahasakanmu dalam setiap tetes air mata yang merindu. menggenggammu bersama titik embun yang semalam meningkahi fajar, menunggu waktu, menepi kemudian singgah di selasar rumahku. bukan! kau tidak singgah melainkan meminangku. kau datang tanpa seucap kata, tatapmu memberi seribu pertanda. sebuah maha karya yang begitu jelita.
namun, pernah kau lihat bagaimana mentari menyapa pagi? atau kemarau yang merindukan gerimis di tengah padang gersang? kau adalah mawar terindah di taman kata. bidadari nan santun dari kepungan pulau di antara banyak pemuja. ya! telah tiga belas purnama kita menyapih sukma di tepian muara dan memintal sutera yang menutupi pesona wajahmu menyandingi embun di sepasang mata indahmu.
ingin munajat ini kuikat bersama rerumpun ilalang kesukaanmu. menyenandung irama surga yang kau beritakan kepadaku. mungkin kita telah menyatu, mungkin kita utuh, mungkin hatimu rapuh, atau aku adalah rusuh. lalu kau tahu bagaimana aku memujamu?
sampai kini kau masih berkisah akan senja yang pernah hilang. menyisakan luka demi menjaga hati lain hawa untuk tetap berbunga. inilah isyarat yang selalu kutitipkan pada bebaris puisi. pertanda yang mungkin kau tak mengerti, kristal yang kupungut dari telaga matamu telah kusulam menjadi mutiara. hanya untukmu dalam setiap dukamu.
ah, akhirnya aku belajar mengeja rindu dari embun dan senja yang kau titipkan padaku. hingga aku tahu, singgasana ini hanyalah untukmu.
aku tidak ingin kau pecah. namun,
kau memintaku melemparkan batu
pertanda kita musnah dalam cinta
dirimu, atau
dirnya
aku mengeja isyaratku
bukan di matamu
aku cinta kepadaNya
kamu cinta kepadaNya
Dia cinta kepadaku
Dia cinta kepadamu
kamu cinta kepadaku
kita saling menyinta
namun, aku tidak memilihmu
aku membaca isyaratmu, semalam
purnama tak bergenap
dalam kopi yang kau seduh untuknya.
sudah tujuh purnama aku tidak melukismu
yang kuingat dulu hanya kuas dan
secarik kertas lusuh di depan mataku
ingin rasanya melukis cinta itu
kembali di matamu walau tanganku
tak mampu menggenggam ronamu.
masih kau ingat,
lembar kisah yang sempat memudar dulu
kutoreh tepat bersama genap purnama tengah malam
aku baru tahu jika ia berbahasa
mencumbu langit dan tenggelam
bercelupan tinta hitam
kupikir biru kesukaanmu.
namun, sekali lagi aku bukan pujangga
atau dewa-dewa romatisme yang kau kenal
dalam abad bahkan dekade-dekade langkahmu
menjejak kemudian pergi bergitu saja
dan juga, aku bukan seorang hais
meminta laila dalam setiap air matamu.
cukup ini saja,
kau tak pernah tahu dan
aku tak ingin tahu
apakah cinta yang membatu
atau kita yang membisu.
Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan dating ke Amnerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana di belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Tirani kerajaan Ottman, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sejadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.
Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.
Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902 pada usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, “Spirits Rebellious” ditulis di Boston dan diterbitkan di Ney York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keran yang menyerang orang-orang karup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.
Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedy telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 ahun, Sultana, meninggal karena TBC.
Gibran segera kembali ke Boston. Kakanya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran adan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia cukup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah berusian 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.
Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota Ney York. Di New York Gibran bekerja di apartemen sudionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk temnpat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912 “Broken Wings” telah diterbitkan dalam bahasa arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya. Cetakan pertama “Broken Wings” ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.
Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.
Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, “The Madman”, “His Parables and Poems”. Persahabatan yang erat anatar Mary tergambar dalam “The Madman”. Setelah “The Madman”, buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah “Twenty Drawing”. 1919; “The Forerunne”, 1920; dan “Sang Nabi” pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.
Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca “Sang Nabi”. Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah took buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Ypung ikut aktif dalam kegiatan studio Gobran.
Gibran menyelesaikan “Sand and Foam” tahun 1926, dan “Jesus the Son of Man” pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya. “Lazarus” pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan “The Earth Gods” pada tahun 1931. Karyanya yang lain “The Wanderer”, yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain “The Garden of the Prophet”.
Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama dogerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village.
Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.
Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.
Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, “Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku.”
Disadur dari Cara Asyik menjadi Penulis Beken oleh Agunk Irawan MN
Victor Marie Hugo adalah salah satu penulis aliran romantisme pada abad ke-19 dan sering dianggap sebagai salah satu penyair terbesar Perancis. Karya puisinya yang dianggap sangat menonjol di antaranya adalah Les Contemplations dan La' Legende des siecles. Walaupun sangat konservatif pada masa mudanya, ia berpindah ke aliran kiri pada masa tuanya. Ia menjadi pendukung aliran republikanisme dan Uni Eropa. Hasil karyanya menggambarkan hampir semua isu politik dan social, serta kecenderungan artistik pada zamannya.
Hugo menduduki tempat terhormat dalam sastra Perancis abad ke-19. Tahun 1822, terbitlah kumpulan puisinya. “Odes et Ballades” yang berhasil menarik simpati publick Tahun 1823, novel pertamanya, “Han d’Islande”, terbit dan merupakan buku hadiah perkawinannya dengan Adele Foucher (1822). Rumah pasangan ini menajdi tempat pertemuan kaum romantis Perancis, seperti Charles Augustin Sainte Beuve, Alfred de Vigny, de Musset, Marimee, Nerval, Gautier, Alexander Dumas, dan lain-lain.
Dramanya yang pertama berupa epos Cromwell (1827) dan dramanya yang tersohor adalah Hernani (1830), Le Roi s’Asmuse (1832), Marie Tudor (1833), dan Ruy Blas (1838). Selama tujuh belas tahun sejak penerbitan pertama karya puisinya, ia telah menerbitkan sejumlah kumpulan esai, toga novel, dan lima kumpulan puisi. Masing-masing kumpulan puisinya yang penting itu adalah Les Orientales (1828), Feuilles d’Automne (1831), Les Voix Interieures (1837), dan Les Ratons et Les Ombres (1840).
Sementara dua romannya yang sangat masyhur adalah “Notre Dame de Paris” (1831), dan “Les Miserables” (1862). “Les Miserables” yang diterbitkan secara serentak ke dalam sembilan bahasa pada tahun 1862 adalah sebuah kisah luar biasa berlatar kekacauan politik di Perancis pada era sesudah kekuasaan Napoleon.
Melewati masa panjang dalam sejarah Perancis, Victor Hugo mengalami dan mengikuti kegiatan pemerintahan hingga saat rezim yang berkuasa jatuh dan ia ikut terusir. Namun, pengalaman itu memperkaya wawasannya dalam kesusastraan. Masa-masa pengasingannya di luar negeri menjadi bagian dari kegiatannya belajar dan menulis sampai sekembalinya ia ke Perancis setelah runtuhnya Kekaisaran Kedua (1870) dan berdirinya Republik Ketiga, di mana ia ikut ambil bagian dalam lembaga legislatif. Dalam dua dekade terakhir masa hidupnya, Hugo mengalami duka cita akibat kematian orang-orang yang dicintainya: putranya, istrinya, dan kekasihnya. Namun, hal ini justri mencambuk dirinya untuk lebih banyak menulis.
Ketika ia meninggal dunia tanggal 22 Mei 1885, peti jenazahnya diarak dalam suatu prosesi nasional yang agung. Prosesi tersebut bermula dari Arch de Triomphe (monument kemenangan yang terdapat di jantung kota Paris) ke Pantheon (gedung monument megah di Paris, tempat abu jenazah tokoh-tokoh terkenal disemayamkan, di antaranya Rousseau dan Voltaire). Karya-karya Hugo merupakan karya yang banyak memberi landasan yang kuat dan kukuh dalam aliran romantik yang dipeloporinya. Ia menulis dalam semua genre sastra, termasuk bidang kiritk, studi, dan esai-esai yang tajam.
Disadur dari Cara Asyik menjadi Penulis Beken oleh Agunk Irawan MN
Salah satu diantara mereka yang hobi tidur ini adalah saya. Saya menyebutnya hobi karena saya tidak pernah memeriksakannya ke dokter atau ke dukun sekalipun. Kalau ini penyakit, ya saya anggap ini penyakit yang tidak ingin saya sembuhkan. Walau kadang hobi ini sering membuat saya sedikit kelimpungan ketika beraktivitas. Tapi namanya juga hobi, suka-suka donk. Let it flow gitu dech…
Semasa Sekolah Menengah tingkat pertama, hobi ini sudah menggandrungi aktivitas saya. Mulai tidur di malam hari, tidur di saat jam pelajaran, tidur siang sepulang sekolah, sampai tidur petang usai olah raga dan kembali lagi tidur di malam hari. Berulang setiap 24 jam perhari, 7 hari perminggu, 4 minggu perbulan dan 12 bulan pertahun. Nggak nyangka hobi ini semakin menggila sampai akhir Sekolah Menengah.
Masih ingat kejadin semasa tingkat pertama, ketika jam pelajaran masih berlangsung. Saat itu saya sedang mendengarkan musik melalui headset yang sengaja saya pakai diam-diam. Pelajaran Pendidikan Seni saat itu membuat saya bosan dan mengalihakn pikiran saya untuk segera membuka mulut dan menguap selebar-lebarnya. Saya yang duduk di barisan kedua dari belakang tepat di pojok kiri kelas membuat saya laluasa untuk merebahkan kepala dan tidur seperti biasa. Ngantuknya nauzubillah…
Hingga akhirnya sesuatu yang tak terduga terjadi, ini gara-gara Almas –teman sebangku saya- yang super usil mulai menjalankan rutinitasnya sehari-hari untuk mempermalukan orang lain dan saat itu sayalah yang apes.
“Oi Rud, bangun! Dipanggil Pak Samsul tuh.” Almas berbisik setengah keras ketelingaku.
Saya membuka mata perlahan dan luwesnya berkata setengah berteriak dengan jujur, adil, lugas, bebas dan tulus. “Ada apaan?”
Sedetik kemuadian saya menangkap puluhan pasang mata menatapku heran. Ada yang cekikian, ada yang cemberut, ada yang senyum-senyum, bahkan ada yang ngupil.
Almas melepaskan headset dari telingaku, “Itu dipanggil Pak Samsul.”
Aku kelimpungan dan berbisik ke Almas, “Eh, ada apaan?”
“Karena kamu pake headset, beliau minta kamu untuk mengekspresikan apa yang kamu dengar.” Almas juga menjelaskan sambil berbisik.
“Ekspresikan apa yang kamu dengar? Nggak salah?” Tanyaku penasaran pada Almas yang hanya senyum sambil mempermainkan alisnya. Sesekali saya melirik ke arah sang guru. Dasar guru aneh, bukannya dimarahin malah minta ekspresi-ekspresian.
Di depan kelas, saya hanya diam saja. Melihat sang guru yang hanya tersenyum dan mempersilahkan saya untuk melakukan tugasnya. Ragu-ragu saya lemparkan pandangan ke seluruh kelas. Asli itu adalah tiga detik terlama bagi saya, serasa satu tahun.
Tanpa ba-bi-bu dan dengan wajah setebal tembok 2 meter. Saya joget ala hip-hopnya Usher yang sedang hits saat itu. Sambil joget, saya perhatikan seisi kelas hanya diam dan terprangah melihat saya. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, yang jelas hidupku hancur saat itu. Harga diriku jatuh drastis. Ada yang menganga kaget, tertawa sambil menutup matanya mungkin dia takut lihat gajah lagi jingkrak-jingkrak di depan kelas, ada yang loncat-loncat sambil muntah-muntah, lempar kursi, sampai pak Samsul ikut-ikutan benturin kepalanya ke tembok.
Saya yang masih joget langsung bingung tujuh keliling. Terang saja saya berhenti joget dan bertanya kepada pak Samsul atas pertanyaan yang ia ajukan.
“Pak, mang pertanyaannya apa ya?” Tanyaku polos.
Masih sambil tertawa dan benturin kepalanya, “Kamu ini aneh-aneh aja. Saya minta kamu untuk menuliskan apa yang kamu dengar.”
Kontan seisi kelas tertawa semakin keras. Semakin berdarah-darahlah tuh kelas dan hancur. Apalagi hidupku, makin hancur. Ya Allah, ampuuunn….
Hal itu membuat saya semakin terkenal saja, apalagi saat duduk di tingkat tiga. Hobi saya semakin menggila. Tidak hanya tidur di kelas saat tingkat pertama, membawa sepeda ke sekolah juga tak lepas dari hobi saya. Sampai-sampai hal yang memalukan pun kembali terjadi. Upacara bendera pun saya sempat tidur sambil berdiri. Saat itu saya kebagian menjadi pemimpin regu (baca: pemimpin barisan kelas). Tentu saja saya menjadi pemimpin regu bukan tanpa perdebatan alot. Karena saya mulai sadar untuk menghilangkan hobi yang menyusahkan ini, teman-teman dan wali kelas pun memberikan kesempatan.
Tapi, lagi-lagi…
Saya mendengar suara narator lamat-lamat yang semakin lama semakin menghilang, PENGHORMATAN KEPADA PEMIMPIN UPACARA!
Saat itu saya tertidur dan tidak memberikan perintah yang seharusnya menjadi tugas saya. Rina, betubuh mungil yang berdiri di samping saya menyenggol badan saya untuk membangunkan saya dari tidur yang sudah mempermalukan saya juga seisi kelas. Tapi, saya malah BRUK… jatuh dan ngorok tanpa dosa.
Sudah tiga tahun saya rela hidup dengan hobi ini. Tidak ada konfrontasi. Walau ibu saya sudah meminta saya untuk mengatur pola tidur dan kegiatan, saya manut mengikuti sarannya. Tapi, masih saja hobi tidur ini tidak bisa diajak kompromi. Tapi ibu memang tak pernah berhenti untuk selalu mengasihi anaknya. Setiap pagi sebelum Subuh saya selalu dibangunkan oleh usapan halus dan kecupan hangat dikening serta bisikan yang selalu membuat saya semakin nyenyak –nah lo, kapan bangunnya ya? he… he… he…-
Hingga suatu hari ibu pernah jengkel melihat kelakuan saya yang tidak berubah. Masih saja seperti anak kecil yang selalu minta dibangunkan dari mimpinya.
“Nak, bangun udah jam setengah lima. Sebentar lagi Subuh. Buruan cuci muka dan sikat gigi.” Ibu menepuk kaki dan menusap kepala saya seperti biasa.
“Hm… Ia, nanggung lima menit lagi ya.” Saya berseru dengan nada sangat berat bahkan melawan kantuk pun tak kuasa.
Tak ada teguran lagi setelah itu, saya menunggu lima menit dengan masih tidur pulas dan mengiran-ngira lamanya lima menit lewat hitunganku di alam mimpi.
“Nak, bangun!” Sepertinya ibu mulai jengah, lamat-lamat saya dengar suaranya yang sedikit berubah dan gumamannya yang mulai panjang. Saya menaruh firasat bakalan di-byur.
“Eh, iya… iya.” Langsung saja saya bangun dan tidak menuju kran air. Saya berjalan menuju dapur melewati ruang santai dengan tertatih-tatih dan…
BRUKK!!!
Kaki saya menyandung sebuah bantal besar berukuran satu kali satu meter yang biasa digunakan untuk tiduran di ruang santai. Saya terjatuh dan akhirnya kembali ke alam mimpi.
Sejak saat itu ibu semakin tidak percaya membiarkan saya pergi ke dapur sendirian untuk berwudhu. Mungkin ia ingin saya bisa lebih mandiri. Shalat saja nggak bisa bangun sendiri apalagi mandi sendiri –eh salah ding-.
Takut dicap sebagai anak durhaka, akhirnya saya berinisiatif untuk bangun sendiri dengan menyetel weker di handphone saya. Menunjukkan pukul 2 dini hari dan setengah 5 pagi. Saya pasang dengan volume ringtone yang super guede agar saya bisa bangun. Sehari, dua hari, tiga, hari dan…tetap saja ibu masih setia membangunkan saya –waduh-.
“Udah! Mulai saat ini nggak usah nyetel weker lagi! Nyetel weker tapi nggak bangun-bangun. Tiap hari tetap aja mama yang bangunin! Udah suaranya gede lagi!” Ibu ngamuk-ngamuk sambil bawa parang.
Hua… mama apmuni anakmu ini. Hiks.
Mulai saat itu…. Eh, nggak ding. Akhirnya saya nyadar juga kalau saya masih nggak bisa meninggalkan hobi saya sampai kuliah saat ini.
He… he… he… kebayang kan kalau setiap pagi masih aja ada ibu yang nemenin shalat walau hanya lewat handphone.
Kegiatan tulis-menulis Tolstoy dimulai pada tahun 1951. Pengalaman semasa di angkatan perang terungkap dalam karya-karya pertama Tolstoy yang semakin hari semakin mendapat pujian dari beberapa kritisi terkenal. Dua tahun kemudian, Tolstoy mulai mempersiapkan sebuah karya Perang dan Damai. Salah satu bentuk persiapan itu berupa partisipasi aktif sebagai tentara memerangi pasukan Turki. Walaupun hanya sebentar, keterligatan Tolstoy dalam peperangan cukup member bekal yang memadai untuk melahirkan karya fiksi mengenai kehidupan seorang tentara. Salah satu cerita panjang terbaiknya dari periode ini adalah Dua Prajurit Berkuda.
Lebih dari sekadar melontarkan kritik atau mengangkat tema-tema kerakyatan, Tolstoy melangkah jauh ke depan dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain di masanya. Ia melepaskan gelar kebangsawanannya, melakukan aktivitas seperti konsep kadesi, menerbitkan majalah sastra budaya, serta merenovasi kembali sekolah yang didirikannya di Yasnaya Polyana pada tahun 1862. Tolstoy bahkan mengidentifikasikan dirinya sebagai petani Rusi biasa. Selain itu, ia pun mulai menerbitkan buku-buku tipis dengan harga murah agar terjangkau oleh kantong rakyat biasa. Dapat dikatakan bahwa terjadi perubahan besar-besaran pada diri Tolstoy. Sejalan dengan hal itu, karya-karya Tolstoy semakin terasa menggigit dan bakat menulisnya pun semakin menonjol walaupun untuk menghasilkan suatu karya, kadang-kadang ia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya.
Namun yang pasti, Leo Tolstoy memang memiliki pemikiran-pemikiran yang hakiki, bahkan kadang-kadang progresif tentang kebijakan, cinta, kemasyarakatan, maupun keagamaan untuk ukuran zamannya ketika itu. Sayangnya, tidak semua karyanya sempat diselesaikan. Akan tetapi, dari sejumlag kreasinya, Tolstoy tetap membuktikan dirinya sebagai master of thinking handal.
Pengamatan Tolstoy terhadap perilaku manusia, khususnya wanita, cukup mengejutkan juga. Bahkan dalam beberapa karyanya, tema wanita ia angkat menjadi tema sentral, terutama yang menyangkut masalah status sosial dan pergeseran nilai-nilai kewanitaan yang berlaku. Pernikahan yang tanpa dilandasi cinta melainkan status sosial semata, konflik-konflik keluarga akibat desakan serta tuntutan zaman, serta situasi tragis yang sering melanda kehidupan keluarga modern mendominasi karya ulung Tolstoy lainnya, yaitu Anna Karenina.
Dalam Anna Karenina, Tolstoy seakan-akan meneropong perkawinan Anna dan Karenin yang tidak didasari oleh cinta. Terjalinlah jalinan percintaan gelap Anna dengan seorang pemuda lain. Karenin yang terkungkung oleh status kebangsawanannya tidak menginginkan perceraian sekalipun Anna sudah hidup bersama dengan kekasihnya secara tidak sah. Ternyata keputusan Anna tersebut tidak membuahkan kebahagiaan. Untuk mengakhiti konflik psikologisnya yang sudah sedemikian rumit, Anna memutuskan untuk bunuh diri.
Sejak menyelesaikan karyanya, Perang dan Damai, pada tahun 1870, Tolstoy mengalami krisis kejiwaan mengenai ketuhanan. Ia menjadi lebih perasa dan sangat moralis. Ia juga mnejadi pembenci dan pengecam semua aliran seni. Ia sangat menjadi asketis. Ia menyerahkan semua kekayaannya untuk kaum miskin hingga berselisih dengan istrinya, Sophia Andreyevna. Ini yang membuat keduanya kemudian berpisah. Tak hanya sampai di situ, ia juga menjadi vegetarian dan berpakaian tak ubahnya kaum pengembara. Bahkan ia juga menolak institusi gereja dan pemerintah.
Pada saat-saat terakhir penyelesaian Anna Karenina, Tolstoy berhasil mengatasi krisis religiusnya, seperti tergambar pada karya tersebut. “Arti hidup, termasuk kehidupan itu sendiri, hendaknya disesuaikan dengan kebaikan batin seseorang, sebab hanya melalui kepercayaan terhadap perasaan hati dan taat pada ajaran keagamaan, seorang dapat menemukan kebahagiaan yang wajar,” demikian pendapat Tolstoy. Pandangan seperti itu terasa semakin menarik untuk disimak sebab diketengahkan oleh seorang Tolstoy.
Pada tahun 1910, kesehatan Tolstoy makin memburuk, ia kerap bertanya tentang istrinya, Sophia, namun anak-anaknya kerap mengalihkan pertanyaan itu. Padahal saat-saat itu Sophia sebenarnya telah tinggal di depan rumahnya, merasakan kesakitan yang sama. Namun pada tanggal 5 Nopember 1920, setelah beberapa kali gagal jantung, mautpun akhirnya menjemput penulis besar itu.
Disadur dari Cara Asyik menjadi Penulis Beken oleh Aguk Irawan MN
seperti bermimpi, kudengar petikan kecapi dengan gumam lirih di sampingku, seraut wajah menawan bagaikan purnama di genting kaca, aku tertawan. di telaga ini kau pinta mahkota sedang aku hanya jelata dalam balada-baladaNya, apakah kau akan pergi, bersama debu, tempias di repihan celana panjangku.
lihat, lihat apa yang kupunya! bukan bahtera yang kuikat apalagi kencana bersayap emas. hanya di ujung sana sebuah teja yang semakin jingga, terikat bersama camar berabad lalu, tapi tak pernah rapuh dan selembar roti cokelat ini entah siapa yang akan kubagi.
kau bergumam lagi seperti nyanyian peri, pernah kudengar seabad lalu tepat di telaga ini, berbisik, hanya berbisik kemudian sirna. apakah kau ia yang hilang itu, kau tak menjawab, tapi…
lagi kau bergumam, kau tak memetik kecapi, genggamanmu tepat menusuk jantungku. izinkan aku menikmati sebagian roti cokelat itu, pintamu.
hingga akhirnya aku tahu, mahkota yang hilang dalam sebuah balada seabad lalu. dan saat itu, petang menuju sukma-sukma kita yang lebih dahulu bersenggama, menirwana. utuhlah cahaya kita. utuhlah cinta kita. utuh.
kita masih beradu, apakah pesan yang kuselipkan padamu sudah kau eja? bahkan masih mengatruh, mengapa diam menjadi candu yang semakin berbahasa. jangan kau tuang lagi bersama lembaran naskahmu yang terbakar, aku masih ingin menitis bebaris liris. padahal samudera masih begitu luas tak habisnya dan biarkan kopi itu tetap hangat layaknya seduhan pertamamu.
dan malam ini kita duduk beralaskan bebunga melati dengan perapian yang kita sulam bersama sesisa waktu. bintang berkedip pada kita, mungkin mengiri kita saling bersentuhan. kain kafan yang kita kenakan kini tak mengartikan kenangan. ia menguning, entah karena ia lupa kita telah bercumbu atau bersetubuh dengan aksara semalam lalu.
mungkin kita akan menunggu, bagaimana hujan itu luruh di tepian waktu. seperti menanti sempadan senja pada petang, menyanyikan kidung asmara kita dan menikmati selembar roti cokelat. Hanya milik kita.
: Rama
kau tahu mengapa bintang
membiarkan kita mengeja aksaranya
dalam diam yang kita nikmati?
: Anisa
entahlah,
mungkin bintang-bintang itu sengaja
mengajarkan kita akan kata yang tak terucap.
bukankah diam adalah bahasa yang indah?
: Rama
ya! diam adalah bahasa yang indah.
syukurlah aku menemukanmu diantara dedaunan rapuh, menguning bersama waktu. memintaku untuk diam bersamamu, menikmati secangkir kopi hangat dan senja yang kaubalut dalam roti cokelat. syukurlah aku mengejamu di setiap tetes embun yang menghangat bersama repihan mentari. mengajakku untuk menari bersamamu, melukis sang awan dengan cinta yang kita ruapkan semalaman suntuk. ya! saat kita menyetubuhi aksara.
tidak perlu ingat kapan kita menata pekarangan di belakang rumah, pun gemericik air yang kita timba dari sumur yang semakin kering. yang kita tahu, dialah candu yang membuat kita menyatu. entah dalam hitungan waktu atau berbatas kenangan berabad lalu.
syukurlah kita bercengkrama lagi, walau kafan yang kita gunakan kini telah jauh berbeda warnanya. mungkin kita pernah saling melupa. ya! melupa karena kita pernah saling menemukan. Merindu karena kita pernah saling bercumbu.
jangan lupa kau catat sebuah pesan pada kertas kecokelatan dan tinta emas yang kuselipkan dalam tas belanjamu. aku hanya ingin engkau tahu, bahwa aku akan selalu merindukanmu pulang bersama waktu.
Mungkin kita tak akan bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki segalanya. Namun, kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki apa yang ada dalam genggaman kita saat ini dan membuat ending yang baru.
Terkadang kita tak bisa mamaksa waktu untuk sekadar berbagi tempat cerita, berhidangkan teh manis di selsar hati kita. Justru waktu yang akan memaksa kita untuk bertandang ke setiap jengkal kisah perjalanannya.
notes
skriptorium adalah yang bermakna "ruang naskah" ini berisi opini, artikel, kolom, dan tulisan non fiksi lainnya.
beryl adalah "mutiara lautan hijau", berisi puisi-puisi yang ditulis dan dimiliki hak ciptanya oleh pemilik blog skriptorium beryl (Takiyo).
eskapisme merupakan pelepasan atau pelarian-pelarian keadaan penulis dari karya sastra murni, biasa berisi guratan hati.
mots d'esprits, kata-kata pintar yang di dalamnya terdapat beberapa kutipan-kutipan sastra, metamorfosa kehidupan, dan lain sebagainya dengan bentuk adagium maupun kata mutiara.
eloquentia adalah sebuah makna akan "kekaguman" terhadap bahasa sebuah sastra (dikhususkan pada tulisan-tulisan fiksi oleh pemilik blog).
quote of the week
"Carmina vel coelo possunt deducere lunam"
pun sajak-sajak[bahasa] dapat membuat bulan turun dari langitadagium sejarah filsafat bahasa
Selengkapnya


