skriptorium beryl

literature & spiritual combination

: Anisa

seperti bermimpi, kudengar petikan kecapi dengan gumam lirih di sampingku, seraut wajah menawan bagaikan purnama di genting kaca, aku tertawan. di telaga ini kau pinta mahkota sedang aku hanya jelata dalam balada-baladaNya, apakah kau akan pergi, bersama debu, tempias di repihan celana panjangku.

lihat, lihat apa yang kupunya! bukan bahtera yang kuikat apalagi kencana bersayap emas. hanya di ujung sana sebuah teja yang semakin jingga, terikat bersama camar berabad lalu, tapi tak pernah rapuh dan selembar roti cokelat ini entah siapa yang akan kubagi.

kau bergumam lagi seperti nyanyian peri, pernah kudengar seabad lalu tepat di telaga ini, berbisik, hanya berbisik kemudian sirna. apakah kau ia yang hilang itu, kau tak menjawab, tapi…

lagi kau bergumam, kau tak memetik kecapi, genggamanmu tepat menusuk jantungku. izinkan aku menikmati sebagian roti cokelat itu, pintamu.

hingga akhirnya aku tahu, mahkota yang hilang dalam sebuah balada seabad lalu. dan saat itu, petang menuju sukma-sukma kita yang lebih dahulu bersenggama, menirwana. utuhlah cahaya kita. utuhlah cinta kita. utuh.

Bandung, 24 Juni 2009. 08.42pm

malam ini kita duduk berdampingan, di atas perahu yang kupalu tadi pagi bersama wewangian mawar. menanti hujan yang tak kunjung datang, padahal menyapa mereka adalah isyarat sebuah pertemuan. kau bilang mereka titisan bunga ilalang yang bertandang bersama peri mungil. bagiku mereka tak sekadar itu, ya! merekalah perapian abadimu, sedang aku hanya penyair biasa tanpa sebuah nama.

kita masih beradu, apakah pesan yang kuselipkan padamu sudah kau eja? bahkan masih mengatruh, mengapa diam menjadi candu yang semakin berbahasa. jangan kau tuang lagi bersama lembaran naskahmu yang terbakar, aku masih ingin menitis bebaris liris. padahal samudera masih begitu luas tak habisnya dan biarkan kopi itu tetap hangat layaknya seduhan pertamamu.

dan malam ini kita duduk beralaskan bebunga melati dengan perapian yang kita sulam bersama sesisa waktu. bintang berkedip pada kita, mungkin mengiri kita saling bersentuhan. kain kafan yang kita kenakan kini tak mengartikan kenangan. ia menguning, entah karena ia lupa kita telah bercumbu atau bersetubuh dengan aksara semalam lalu.

mungkin kita akan menunggu, bagaimana hujan itu luruh di tepian waktu. seperti menanti sempadan senja pada petang, menyanyikan kidung asmara kita dan menikmati selembar roti cokelat. Hanya milik kita.

: Rama
kau tahu mengapa bintang
membiarkan kita mengeja aksaranya
dalam diam yang kita nikmati?

: Anisa
entahlah,
mungkin bintang-bintang itu sengaja
mengajarkan kita akan kata yang tak terucap.
bukankah diam adalah bahasa yang indah?

: Rama
ya! diam adalah bahasa yang indah.

Bandung, 10 Juni 2009. Ba'da Dhuha

: Anisa

syukurlah aku menemukanmu diantara dedaunan rapuh, menguning bersama waktu. memintaku untuk diam bersamamu, menikmati secangkir kopi hangat dan senja yang kaubalut dalam roti cokelat. syukurlah aku mengejamu di setiap tetes embun yang menghangat bersama repihan mentari. mengajakku untuk menari bersamamu, melukis sang awan dengan cinta yang kita ruapkan semalaman suntuk. ya! saat kita menyetubuhi aksara.

tidak perlu ingat kapan kita menata pekarangan di belakang rumah, pun gemericik air yang kita timba dari sumur yang semakin kering. yang kita tahu, dialah candu yang membuat kita menyatu. entah dalam hitungan waktu atau berbatas kenangan berabad lalu.

syukurlah kita bercengkrama lagi, walau kafan yang kita gunakan kini telah jauh berbeda warnanya. mungkin kita pernah saling melupa. ya! melupa karena kita pernah saling menemukan. Merindu karena kita pernah saling bercumbu.

jangan lupa kau catat sebuah pesan pada kertas kecokelatan dan tinta emas yang kuselipkan dalam tas belanjamu. aku hanya ingin engkau tahu, bahwa aku akan selalu merindukanmu pulang bersama waktu.

Bandung, 06 Juni 2009. Ba'da Subuh